Pair of Vintage Old School Fru
POSISNET
Wapsite.Me
---------------------------------------------
Di balik Cerita Sejarah
------------------------------------------
Ada banyak versi ketika berbicara tentang Syech Lemah Abang alias Syech Siti Jenar. Ada yang melihat dari sudut pandang konflik antarmahzab, antara ‘ulama fiqh dengan ‘ulama tasawuf. Ada yang melihat dari sudut pandang politik. Bahkan ada yang meragukan sosok Syekh Siti Jenar sebagai sosok sejarah, dan hanya mitos belaka. Tak heran bila kemudian cerita tentangnya sangat simpang siur, bahkan cnderung mengalami mistifikasi. Ternyata ada versi lagi dari sejarah tersebut. Syekh Siti Jenar seorang ‘ulama Syi’ah dan berusaha untuk mendirikan kerajaan Islam Syi’ah merdeka dari Demak. Inilah yang mendasari konflik antara Wali Sanga (yang pro-Demak) dengan Syekh Siti Jenar yang menjadi pendukung utama Kebo Kenanga yang berusaha melepaskan diri dari pengaruh Demak dan mendirikan kerajaan Pengging yang beraliran Syi’ah. Akibat konflik tersebut jelas, yaitu pihak Pengging mengalami kekalahan telak, dengan kematian Kebo Kenanga di tangan Sunan Kudus, dan ditangkapnya Syekh Siti Jenar oleh kerajaan Demak. Syekh Siti Jenar-pun diadili dan dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan makar (bukan karena menyebarkan ajaran wahdatul wujud). Masalahnya tidak berhenti hanya sampai disini saja. Akibat pemberontakan tersebut, Sunan Gunung Jati dan Wali Sanga berencana untuk menumpas dan membinasakan pengikut Syi’ah. Tapi rencana ini dicegah olah Haji Abdullah Iman alias Walangsungsang (Wong Ageung Cirebon Seuwue Siliwangi), dengan alasan bahwa pengikut mahzab Syafi’i dan Syi’ah di Cirebon sama banyak, sehingga semua berhak untuk menganut mahzab yang diyakininya. Untuk meredam gejolak pengikut Syekh Siti Jenar yang banyak, maka makam Syaikh Lemah Abang dipindahkan dari Kemlaten ke kompleks makam keluarga kraton di Gunung Sembung. Untuk membina para pengikutnya yang berjumlah banyak, Sunan Kalijaga ditugaskan untuk menggantikan Syekh Siti Jenar, sehingga ia beralih mazhab dari Hanafi menjadi Syi’ah. Dari sejarah versi diatas, ada tiga hal yang menarik. Yang pertama adalah bahwa pendapat bahwa Syekh Siti Jenar adalah ‘ulama Syi’ah. Beliau memang dikenal sebagai seorang sufi, tapi bahwa Syekh Siti Jenar seorang bermahzab Syi’ah perlu dibuktikan kebenarannya. Kalaupun ini benar, maka ini merupakan fenomena yang menarik yang mungkin bisa menjelaskan corak hubungan antara mahzab Sunni dan Syi’ah di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Yang kedua, peralihan mahzab dari Hanafi ke Syi’ah oleh Sunan Kalijaga. Terlepas dari benar tidaknya kesyia’ahan Sunan Kalijaga, setidaknya fenomena perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa. Bukan hanya antarmahzab Sunni, bahkan antara mahzab Sunni dan Syi’ah. Seperti yang ditulis oleh Quraish Shihab dalam bukunya Sunni – Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah ?, menyebutkan titik-titik perbedaan dan persamaan antara Sunni – Syi’ah yang pada intinya tidak keluar dari koridor Islam, sehingga semestinya antara Mahzab Sunni dan Syi’ah dapat tercipta persaudaraan, tidak harus terjadi permusuhan sehingga harus saling menumpas dan membinasakan seperti apa yang direncanakan oleh Wali Sanga di masa lampau. Sehingga perpindahan mahzab bukanlah hal yang luar biasa dan tidak perlu dipermasalahkan, seperti yang dicontohkan oleh Sunan Kalijaga. Yang ketiga, jika Kebo Kenanga murid Syaikh Lemah Abang adalah seorang Syi’ah, apakah anaknya, Mas Karebet alias Jaka Tingkir juga seorang penganut mahzab Syi’ah. Kenapa hal ini begitu penting?. Karena aku perlu tahu apakah aku memiliki nenek moyang bermahzab Syi’ah. Di lingkungan keluarga besarku (dari pihak Ibu) ada kepercayaan/keyakinan bahwa kami berasal dari satu nenek moyang, yaitu Jaka Tingkir alias Mas Karebet, yang makamnya belakangan kuketahui ada di Lamongan (itulah kenapa Persela Lamongan dijuluki Laskar Jaka Tingkir).
Sumber : arielalfata

HOME